Ada kesalahan di dalam gadget ini

Senin, 11 Juli 2011

Sistem Perencanaan Pendidikan Agama Islam






MAKALAH
Sistem Perencanaan Pendidikan Agama Islam


DISUSUN OLEH
DARMANTO
DOSEN PEMBIMBING
Drs. Yusrizal Wahab Lubis, M. Pd

FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS MUHAMMDIYH SUMATRA BARAT
1432 H / 2011 M






                                                                                                                               
KATA PENGANTAR
Syukur alahamdulillah kita ucapkan kepada Allah SWT, yang telah memberikan kekuatan dan kemampuan kepada penulis untuk menyelesaikan tugas ini yang di percayakan kepada penulis. Salawat beserta salam tidak lupa disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW, sebagai suri tauladan bagi kita dalam beriman dan berislam. Karena dia telah membawa kita kejalan yang benar, dari zaman kebodohan sampai zaman yang berilmu pengetahuan seperti saat sekarang ini. Dalam makalah ini penulis telah ditugaskan untuk membuat tugas akhir ini. Membuat tugas ini merupakan latihan bagi penulis untuk bisa belajar menulis makalah atau karya ilmiah atau  dengan baik.Walaupun dalam penulisan masih ada kesalahan.
Dalam menulis ini penulis banyak memperoleh bantuan dari berbagai pihak,   Semoga pihak yang telah ikut serta membantu dalam membuat makalah ini diberi imbalan oleh sang Maha Kuasa,aaamin. Mungkin penulis hanya bisa mengucapkan jazâ kum-u ‘l-Lâh-i khairu ‘l-jazâ.
Tentu dalam makalah ini banyak bapak atau para pembaca lainnya menemukan kesalahan atau kekurangan,saya sebagai penulis mohon ada kritik saran yang konstruktif atau membangun,Terima kasih, wasalam.


                                                                                    Padang, 2011 M


                                                                                          Penulis




DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI

PEMBAHASAN
A.    Pengertian fungsi dan tujuan pengajaran dalam pendidikan agama islam
B.     Pendekatan sistem dalam pendidikan agama islam
C.    Ruang lingkup pendidikan agama islam
D.    Pendidikan agama sebagai suatu sistem dalam pendidikan agama islam
E.     Menilai kebutuhan peserta didik
F.     Merumuskan tujuan instruksional
G.    Mengembangkan tes kriteria
H.    Menganalisis tugas
I.       Membuat desain pembelajaran
J.      Merancang evaluasi program pendidikan agama islam
K.    Merancang pengolahan hasil evaluasi
KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA





PEMBAHASAN
A.  PENGERTIAN FUNGSI DAN TUJUAN PENGAJARAN DALAM PENDIDIKAN ISLAM
1.Pengertian Pendidikan Agama Islam
Dalam menyimpulkan tentang pengertian Pendidikan Agama Islam terlebih dahulu dikemukakan pengertian pendidikan dari segi etimologi dan terminology..Dari segi etimologi atau bahasa, kata pendidikan berasal kata "didik" yang mendapat awalan pe- dan akhiran -an sehingga pengertian pendidikan adalah sistem cara mendidik atau memberikan pengajaran dan peranan yang baik dalam akhlak dan kecerdasan berpikir.  kemudian ditinjau dari segi terminology, banyak batasan dan pandangan yang dikemukakan para ahli untuk merumuskan pengertian pendidikan, namun belum juga menemukan formulasi yang tepat dan mencakup semua aspek, walaupun begitu pendidikan berjalan terus tanpa menantikan keseragaman dalam arti pendidikan itu sendiri.
            Diantaranya ada yang mengemukakan pengertian pendidikan sebagai berikut:
a.    Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Sesuai dengan Undang-Undang Republik Indonesia No 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional pasal 1.
b.    Kata pendidikan berasal dari kata didik yang berarti menjaga, dan meningkatkan. (Webster's Third Digtionary), yang dapat didefinisikan sebagai berikut.
(a.) Mengembangkan dan memberikan bantuan untuk berbagai tingkat pertumbuhan atau mengembangkan pengetahuan, kebijaksanaan, kualitas jiwa, kesehatan fisik dan kompetensi.
(b.) Memberikan pelatihan formal dan praktek yang di supervisi.
(c.) Menyediakan informasi.
(d.) Meningkatkan dan memperbaiki.
      Pendidikan Agama Islam berkenaan dengan tanggung jawab bersama. Oleh sebab itu usaha yang secara sadar dilakukan oleh guru mempengaruhi siswa dalam rangka pembentukan manusia beragama yang diperlukan dalam pengembangan kehidupan beragama dan sebagai salah satu sarana pendidikan nasional dalam rangka meningkatkan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Selanjutnya (H. Haidar Putra Daulay), mengemukakan bahwa Pendidikan Islam pada dasarnya adalah pendidikan yang bertujuan untuk membentuk pribadi Muslim seutuhnya, mengembangkan seluruh potensi manusia baik yang berbentuk jasmani maupun rohani.
Dengan demikian Pendidikan Agama Islam itu adalah usaha berupa bimbingan, baik jasmani maupun rohani kepada anak didik menurut ajaran Islam, agar kelak dapat berguna menjadi pedoman hidupnya untuk mencapai kebahagiaan hidup dunia dan akhirat.
2.      Fungsi Perencanaan
Fungsi perencanaan adalah sebagai pedoman pelaksanaan dan pengendalian, sebagai alat bagi pengembangan quality assurance, menghindari pemborosan sumber daya, menghindari pemborosan sumber daya, dan sebagai upaya untuk memenuhi accountability kelembagaan. Jadi yang terpenting di dalam menyusun suatu rencana, adalah berhubungan dengan masa depan, seperangkat kegiatan, proses yang sistematis, dan hasil serta tujuan tertentu
3.      Tujuan Perencanaan
Pada dasarnya tujuan perencanaan adalah sebagai pedoman untuk mencapai sasaran yang telah ditetapkan. Sebagai suatu alat ukur di dalam membandingkan antara hasil yang dicapai dengan harapan. Dilihat dari pengambilan keputusan tujuan perencanaan adalah :
a.       Penyajian rancangan keputusan-keputusan atasan untuk disetujui pejabat tingkat nasional yang berwenang.
b.      Menyediakan pola kegiatan-kegiatan secara matang bagi berbagai bidang/satuan kerja yang bertanggung jawab untuk melakukan kebijaksanaan
4.      Proses Perencanaan 
          Perencanaan merupakan siklus tertentu dan dan melalui siklus tersebut suatu perencanaan bias dievaluasi sejak awal persiapan sampai pelaksanaan dan penyelesaian perencanaan. Dan secara umum, ada beberapa langkah penting yang perlu diperhatikan di dalam perencanaan yang baik, yaitu:
a.       Perencanaan yang efektif dimulai dengan tujuan secara lengkap dan jelas
b.      Adanya rumusan kebijaksanaan, yaitu memperhatikan dan menyesuaikan tindakan-tindakan yang akan dilakukan dengan factor-faktor lingkungan apabila tujuan itu tercapai
c.       Analisis dan penetapan cara dan sarana untuk mencapai tujuan dalam kerangka kebijaksanaan yang telah dirumuskan.
d.      Penunjukan orang - orang yang akan menerima tanggung jawab pelaksanaan (pimpinan) termasuk juga orang yang akan mengadakan pengawasan.
e.       Penentuan system pengendalian yang memungkinkan pengukuran dan pembandingan apa yang harus dicapai, dengan apa ya ng telah tercapai, berdasarkan criteria yang telah ditetapkan.
 Dengan demikian, beerdasarkan unsure-unsur dan langkah-langkah dalam perencanaan, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa proses perencanaan merupakan suatu proses yang diakui dan perlu dijalani secara sistematik dan berurutan karena keteraturan itu merupakan proses rasional sebagai salah satu property perencanaan pendidikan.
B.     Pendekatan Dalam Sistem Pendidikan
1.      Pendidikan Sebagai Sistem
System pendidikan nasional Indonesia merupakan subsistem dari pembangunan nasional, system pendidikan nasional Indonesia mempunyai peran utama dalam mengelola pembangunan dan membina sumber daya manusia sebagai kekuatan sentral dalam proses pembangunan.melalui pendidikan, manusia Indonesia diharapkan menjadi individu yang mempunyai kemampuan dan keterampilan untuk secara mandiri meningkatkan taraf hidup lahir dan batin,dan meningkatkan peran sebagai pribadi,pegawai\karyawan, warga masyarakat, warga Negara dan makluk tuhan. Pembinaan tentang pendidikan tidak terlepas dari  sudut pandang yang digunakan.penekatan sistem merupakan suatu cara yang memandang  pendidikan yang menyeluruh dan sistematik.Pendidikan sebagai suatu  sisten merupakan kesatuan  yang utuh, dengan bagian-bagiannya yang berinteraksi satu sama lain.
Secara umum, pendidikan dapat digambarkan sebagai kesatuan subsistem-subsistem dan membentuk satu sistem yang utuh.Interaksi fungsional antara subsistem pendidikan dikenal sebagai  proses pendidikan.Proses dapat terjadi dimana saja, tidak terbatas dilingkungan sekolah dan  kampus.
Melalui proses pendidikan diperoleh hasil pendidikan.Selanjutnya, hasil pendidikan ini dikembalikan kepada lingkunga atau supra sistem.dari hasil pendidikan,sistem pendidikan memperoleh umpan balik yang dapat digunakan untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu proses pendidikan.

2.      Pendekatan Sistem dan Pendidikan.
Pendidikan seringkali dijelaskan melalui sudut pandang masing-masing orang.Ahli sosiologi akan mengartikan pendidikan sebagai usaha pewaris dari  generasi ke generasi.Pakar antropologi mengartikan pendidikan sebagai usaha pemindahan  pengetahuan dan nilai-nilai kepada generasi selanjutnya. Ahli ekonomi mengatakan pendidikan sebagai suatu usaha penanaman sumber daya manusia untuk membentuk  tenaga kerja dalam pembangunan bangsa.
Pendekatan yang digunakan dalam menjelaskan pendidikan  berdasarkan fragmen yang teputus-putus merupakan pendekatan yang sering disebut denga monodisipliner. Dengan sudut pandang yang sistematik , pendidikan dapat didepenisikan sebagai suatu sistem yang utuh dengan bagian-bagian yang berinteraksi  satu sama lain. Dalam hal ini pendidikan adalah satu kesatuan yang utuh.sistem secara sederhana dapat diartikan sebagai satu kesatuan dari berbagai elemen atau bagian-bagian yang mempunyai berhubungan fungsional dan berinteraksi secara dinamis untuk mencapai hasil yang diharapkan (Mudyaharjo, 1993). Denga demikian pendidikan dapat diartikan sebagai  satu keseluruhan karya insani yang terbentuk dari bagian-bagian yang mempunyai tujuan akhir.
3.      Masukan Bagi sistem Pendidikan.
Pendidikan sebagai suatu sistem memperoleh masukan dari supra sistem dan memberi hasil (keluar) bagi supra sistem.Masukan yang diperoleh dari supra sistem terdiri dari tata nilai cita- cita dan norma-norma yang terdapat dalam masyarakat, orang yang akan menjadi mahasiswa, guru atau dosen, dan personalia dalam pendidikan, dan materi (perangkat keras dan biaya) pendidikan.
Dalam sistem pendidikan, masukan-masukan dari supra sistem diorganisasi dan dikelola dengan pola tertentu menjadi subsistem yang mempunyai hubungan untuk mencapai suatu tujuan, Menurut   Coombos (oleh Mudyono, 1993), ada 12 subsistem dalam pendidikan yaitu:
a.       Tujuan
b.      Murit\siswa
c.       Maajemen
d.      Struktu dan jadwal waktu
e.       Materi
f.       Tenaga pengajar dan pelaksana
g.      Alat Bantu belajar.
h.      Fasilitas
i.        Teknologi
j.        Kendali mutu
k.      Penelitian
l.        Biaya pendidikan


4.      Proses Dalam Sistem Pendidikan
 Proses  pendidikan  adalah proses transpormasi atau perubahan kemampuan potensi individu peserta didik (dalam hal ini mahasiswa) menjadi kemampuan nyata untuk meningkatkan taraf hidupnya lahir dan batin.Proses pendidikan berlansung dimana saja , tidak hanya dalam sekolah atau dikampus.Berdasarkan pengorganisasian proses pendidikan, maka pendidikan dapat terjadi dengan adanya dosen, guru, tutor, pembimbing, fasilitas, atau tampa adanya unsur tenaga pengajar, seperti misalnya kasus mahasiswa belajar mandiri.
Proses pendidikan juga merupakan upaya untuk menjaga kelansungan hidup sistem pendidikan (main-tenace syinergy menciptakan iklim belajar dan budaya belajar) dan untuk menghasilkan sesuatu sesuai dengan tujuan pendidikan (effecif synergi manusia yang mandiri).Usaha perbaikan dan pengembangan subsistem dalam proses pendidikan berkaitan erat dengan kendali mutu hasil pendidikan.Hasil proses pedidikan adalah lulusan dalam jumlah dan mutu sudah ditentukan berdasarkan standar.
5.      Hasil dari Sistem Pendidikan
Hasil pendidikan adalah lulusan yang sudah terdidik adalah tujuan pendidikan.Artinya.lulus yang sudah terdidik adalah lulus yang sudah melalui proses pendidikan dan mencapai tujuan pendidikan .Jika digunakan criteria taksonomi Blooms maka lulusan yang sudah terdidik yang dimaksud adalah orang yang mengalami proses pendidikan sudah mengalami perubahan dan peningkatkan mutu kemampuan, pengetahuan dan keterampilan baik dari segi kooknitif, psikomotor maupun afektf.Jika digunakan Tujuan pendidikan Nasional,lulusan yang terdidik adalah manusia Indonesia yang kualitasnya sudah meningkat.
6.      Pendidikan Islam Sebagai Suatu Sistem
Pada umumnya sistem soal mempunyai cirri-ciri sebagai berikut;
a.       Terdiri dari unsur-unsur yang saling berkaitan (interpendent) antara satu sama lain
  1. Beroriontasi kepada tujuan (goal oriented) yang telah ditetapkan
  2. Didalamnya terdapat peraturan-peraturan tata tertib berbagai kegiatan dan sebagainya.

Sistem adalah suatu kesatuan yang masing-masing berdiri sendiri tetapi saling berkaitan satu dengan yang lainya, sehingga terbentuk suatu kebulatan yang utuh dalam mencapai tujuan yang diinginkan.Noeng Muhadjir mensistematisasi dalam 3 kategori yaitu;
a.       Bertolak dari 5 unsur dasar pendidikan,meliputi yang memberi, yang menerima, tujuan, cara/jalan,dan konteks positif.
  1. Bertolak dari 4 komponen pokok pendidikan, meliputi kurikulum, subjek didik, personifikasi, dan konteks belajar mengajar.
  2. Bertolak  dari 3 fungsi pendidikan meliputi pendidikan kreatifitas, pendidikan moralitas, dan pendidikan produktifitas.
Selanjutnya penulis membagi pula sistem pendidikan itu kepada  4 unsur yaitu:
a.       Kegiatan pendidikan yang meliputi: pedidikan diri sendiri, pendidikan oleh lingkungan, pendidikan seseorang terhadap orang lain.
  1.  Tempat  pendidikan, mencakup: rumah tangga, sekolah, dan masyarakat.
  2. Binaan pendidikan, mencakup: jasmani, akal, dan kalbu.
  3. Komponen pendidikan mencakup: dasar, tujuan pendidikan, peserta didik, materi, metode, media dan efaluasi.

7.      Perbedaan Sistim Pendidikan Islam dengan Non Islam.
Sesuai dengan namanya (islam dan non islam) perbedaan keduanya terletak kepada:
a.       Sistem Ideologi
 Islam memiliki idiologi al-Tauhid yang bersumber dari Al-Qur’an dan hadist.sedangkan non islam memiliki berbagai macam idiologi yang bersumber isme-isme materialis, komunis, atheis, sosialis, kapitalis, dan sebagainya.dengan demikian maka perbedaan kedua sistem    tersebut adalah muatan idiologinya yang akan dicapai.
b.      Sistem Nilai.
Pendidikan islam bersumber dari dua nilai Al-Qur’an dan sunnah, sedangkan pendidikan non- islam berdasarkan dari nilai yang lain.
c.       Oriontasi Nilai
Pendidikan islam  beroriontasi kepada duniawi dan ukhrawi, sedangkan pendidikan non islam oriontasi duniawi semata. Sebagaimana agama bersifat universal berisi ajaran-ajaran yang dapat membimbing manusia lepada kebahagian dunia dan akhirat.Firman Allah SW T dalam surat Al-qosos:77 yang artinya “Dan carilah pada apa yang telah dianugrahkan Allah kepadamu dan janganlah kamu melupakan kebahagiaan dan kenikmatan dunia “
Berdasarkan hal tersebut pendidikan islam berfungsi untuk menghasilkan manusia yang dapat menempuh kehidupan yang indah didunia dan kehidupan yang indah diakhirat serta terhindar dari siksaan Allah yang maha pedih. Berbeda dengan pendidikan barat yang bertitik tolak dengan filsafat promatisme, yaitu yang mengukur kebenaran menurut kepentingan waktu , tempat dan situasi .fungsi pendidikan tidaklah sampai untuk menciptakan manusia yang dapat  menempuh kehidipan yang indah diakhirat, tetapi terbatas pada kepada kehidupan duniawi semsta.
 
C.     PENGERTIAN DAN RUANGLINGKUP PENDIDIKAN ISLAM
 Pendidikan merupakan suatu proses generasi muda untuk dapat menjalankan kehidupan dan memenuhi tujuan hidupnya secara lebih efektif dan efisien.Pendidikan lebih daripada pengajaran, karena pengajaran sebagai suatu proses transfer ilmu belaka, sedang pendidikan merupakan transformasi nilai dan pembentukan kepribadian dengan segala aspek yang dicakupnya.
Perbedaan pendidikan dan pengajaran terletak pada penekanan pendidikan terhadap pembentukan kesadaran dan kepribadian anak didik di samping transfer ilmu dan keahlian. Pengertian pendidikan secara umum yang dihubungkan dengan Islam—sebagai suatu system keagamaan—menimbulkan pengertian-pengertian baru, yang secara implisit menjelaskan karakteristik-karakteristik yang dimilikinya. Pengertian pendidikan dengan seluruh totalitasnya dalam konteks Islam inheren dengan konotasi istilah “tarbiyah, ta’lim, dan ta’dib” yang harus dipahami secara bersama-sama. Ketiga istilah ini mengandung makna yang mendalam menyangkut manusia dan masyarakat serta lingkungan yang dalam hubungannya dengan Tuhan saling berkaitan satu sama lain. Istilah-istilah itu pula sekaligus menjelaskan ruang lingkup pendidikan Islam: informal, formal dan non formal.
Hasan Langgulung merumuskan pendidikan Islam sebagai suatu proses penyiapan generasi muda untuk mengisi peranan, memindahkan pengetahuan dan nilai-nilai Islam yang diselaraskan dengan fungsi manusia untuk beramal di dunia dan memetik hasilnya di akhirat. Tujuan pendidikan Islam tidak terlepas dari tujuan hidup manusia dalam Islam, yaitu untuk menciptakan pribadi-pribadi hamba Allah yang selalu bertakwa kepadaNya, dan dapat mencapai kehidupan yang berbahagia di dunia dan akhirat (lihat S. Adz-Dzariat:56; S. ali Imran: 102).
Dasar-dasar pendidikan Islam, secara prinsipil diletakkan pada dasar-dasar ajaran Islam dan seluruh perangkat kebudayaannya, yaitu:     
a.  Al-Qur’an dan Sunnah, karena memberikan prinsip yang penting bagi pendidikan yaitu penghormatan kepada akal, kewajiban menuntut ilmu dsb.        
b. Nilai-nilai social kemasyarakatan yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam atas prinsip mendatangkan kemanfaatan dan menjauhkan kemudharatan bagi manusia.
c. Warisan pemikiran Islam, yang merupakan refleksi terhadap ajaran-ajaran pokok Islam.
Karakteristik pendidikan Islam:         
a.  penekanan pada pencarian ilmu pengetahuan, penguasaan dan pengembangan atas dasr ibadah kepada Allah swt.          
b. penekanan pada nilai-nilai akhlak.       
c. pengakuan akan potensi dan kemampuan seseorang untuk berkembang dalam suatu kepribadian.
d. pengamalan ilmu pengetahuan atas dasr tanggung jawab kepada Tuhan dan masyarakat manusia.
Proses tarbiyah (pendidikan) mempunyai tujuan untuk melahirkan suatu generasi baru dengan segala crri-cirinya yang unggul dan beradab. Penciptaan generasi ini dilakukan dengan penuh keikhlasan dan ketulusan yang sepenuhnya dan seutuhnya kepada Allah SWT melalui proses tarbiyah. Melalui proses tarbiyah inilah, Allah SWT telah menampilkan peribadi muslim yang merupakan uswah dan qudwah melalui Muhammad SAW. Peribadinya merupakan manifestasi dan jelmaan dari segala nilai dan norma ajaran Al-Quran dan sunah Rasulullah.          

            Asyyahid Sayyid Qutb telah merumuskan tiga faktor pendidikan bagi anak. Pertama, Al-Quran sebagai sumber pembentukan yang satu-satunya. Natijah dari keaslian sumber ini ialah lahirnya generasi yang serba murni hati, akal, tasawwuf dan perasaan yang ikhlas. Kedua, membaca dan mempelajari Al-Quran dengan maksud untuk melaksanakan perintah Allah dengan serta merta sebaik sahaja didengar dan difahami. Dan ketiga, pengislaman yang sama sekali mengakhiri kejahilan silam dan memisahkan dari kejahilan sekitarnya.
   `

            Oleh sebab itu maka pendidikan ahlak tidak dapat di jalankan dengan hanya menghapalkan saja tentang hal baik dan buruk, tapi bagaimana menjalankannya sesuai dengan nilai nilainya. Ada beberapa bagian dalam hal ini aantara lain: (1) mengumpulkan mereka dalam satu kelompok yang berbeda karakter, (2) membantu mereka untuk menemukan jati dirinya dengan memberikan pelatihan, ujian, dan tempaaan, (3) membentuk kepribadian/mendoktrin dengan selalu menjahui hal yang jelek dan berpegang teguh terhadap nilai kebaikan.
D. PENDIDIKAN AGAMA SEBAGAI SUATU SISTEM
Di era global seperti sekarang ini, persoalan pokok yang dihadapi adalah bagaimana cara menyiapkan sumber daya manusia yang modern dan (sekaligus) religius. Di mana ia selalu tanggap terhadap perubahan yang ada di sekitarnya dan berusaha mengejawantahkan hasil pemikirannya, yakni perpaduan antara religiuitas dan intelektualitas sehingga menghasilkan sebuah ide yang dinamis. Profil manusia semacam itu akan selalu berusaha mengadakan perubahan-perubahan kondisi-kondisi atau dogma-dogma yang telah usang dengan mengkondisikan dengan keadaan yang ada dan di mana ia berada, sehingga menghasilkan sesuatu peradaban yang unggul.
Dalam mewujudkan manusia-manusia yang unggul semacam itu tidak terlepas daripada bagaimana pencetakan manusia semacam itu tercapai. Hal ini tidak terlepas daripada pendidikan agama sebagai fondasi cara mereka berpikir, berperilaku serta bagaimana ia menyelesaikan suatu persoalan. Pendidikan juga tidak akan berhasil apabila tidak memperhatikan faktor-faktor yang menurut Fuad Ikhsan disebut ada enam, yakni tujuan, pendidikan, peserta didik, materi pendidikan, metode yang digunakan serta keadaan lingkungan (Fuad Ikhsan, 1997)
Dan keenam faktor tadi tidak juga akan terealisasi tanpa difasilitasi oleh kebijakan-kebijakan negara. Walau bagaimanapun suatu negara akan mempunyai cita-citanya sendiri, bagaimana ia akan membentuk suatu prototype masyarakatnya. Hal ini tidak lepas dari falsafah negara tersebut dengan dilatar belakangi oleh kondisi budaya, sosial politik dan ekonominya. Kebijakan-kebijakan tadi yang akan memfasilitasi suatu proses pendidikan agama pada khususnya, yang membentuk sebuah sistem yang disebut sistem pendidikan nasional. Pada makalah ini, penulis akan mengemukakan bagaimana sebetulnya hubungan antara sistem pendidikan nasional dengan sistem pendidikan agama. Bagaimana implementasi sistem pendidikan agama tadi dalam membentuk manusia modern dan religius, di mana  -di saat yang sama- mereka juga dihadapkan pada suatu kondisi yang serba global. Pembahasan.
Selain itu pendidikan yang demokratis adalah modal yang tidak boleh ditawar lagi. Pendidikan yang demokratis akan membuat suasana lebih dinamis, dimana perbedaan baik antara agama-agama yang yang berbeda maupun perbedaan pemikiran di dalam suatu agama dilindungi dan dipecahkan melalui pendekatan ilmiah (Darmaningtyas, 1999: 172).
E. KEBUTUHAN PESERTA DIDIK
Pendidikan agama mempunyai tanggung jawab yang cukup berat dalam usahanya menciptakan manusia yang cerdas, terampil, manusia yang beriman dan bertaqwa sehingga membentuk kepribadian yang luhur seperti disebutkan dalam Undang-Undang sistem pendidikan. Untuk itu lembaga-lembaga yang menangani tentang pendidikan agama secara umum, sebagai penanggung jawab dalam sistem pendidikan agama kita, harus berusaha menciptakan sistem yang selain demokratis, juga mempersiapkan dengan kebijakan-kebijakannya yang akan memperlebar ruang gerak pendidikan agama kita ditunjang dengan kajian ilmiah kritis tentang pemilihan materi-materi yang sesuai, juga tenaga pengajar yang mumpuni sebagai perisai keberhasilan pendidikan agama kita.
Pemenuhan kebutuhan siswa disamping bertujuaan untuk memberikan materi kegiatan setepat mungkin, juga materi pelajaran yang sudah disesuaikan dengan kebutuhan biasanya menjadi lebih menarik. Dengan demikian akan membantu pelaksanaan proses belajr-mengajar. Adapun yang menjadi kebutuhan siswa antara lain :
1.      Kebutuhan Jasmani hal ini berkaitan dengan tuntutan siswa yang bersifat jasmaniah.
2.      Kebutuhan Rohaniah hal ini berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan siswa yang bersifat rohaniah                       

Kebutuhan penting bagi seseorang siswa dan juga menyangkut aspek kebutuhan jasmani dan rohani diantaranya adalah :
1.      Kebutuhan Sosial
Pemenuhan keinginan untuk saling bergaul sesasama peserta didik dan Pendidik serta orang lain. Dalam halini sekolah harus dipandang sebagai lembagatempat para siswa belajar, beradaptasi, bergaul sesama teman yang berbeda jenis kelamin, suku bangsa, agama, status sosial dan kecakapan.
2.       Kebutuhan Intelektual
Setiap siswa tidak sama dalam hal minat untuk mempelajari sesuatu ilmu pengetahuan. Dan peserta didik memiliki minat serta kecakapanyang berbeda beda. Untuk mengembangkannya bisa ciptakan pelajaran-pelajaran ekstra kurikuler yang dapat dipilih oleh siswa dalam rangkan mengembangkan kemampuan intelektual yang dimilikinya.
Peserta didik adalah salah satu komponen manusiawi yang menempati posisi sentral dalam proses belajar mengajar. Didalam proses belajar-mengajar, peserta didik sebagai pihak yang ingin meraih cita-cita dan memiliki tujuan dan kemudia ingin mencapainya secara optimal. Jadi dalam proses belajar mengajaryang perlu diperhatikan pertama kali adalah peserta didik, bagaimana keadaan dan kemampuannya, baru setelah itu menentukan komponen-komponenyang lain. Apa bahan yang diperlukan, bagaimana cara yang tepat untuk bertindak, alat dan fasilitas apa yang cocok dan mendukung, semua itu harus disesuaikan dengan keadaan ataukarakteristikpeserta didik. Itulah sebabnya peserta didik merupakan subjek belajar. Ada beberapa halyang harus dipenuhi oleh peserta didik sebagai subjek belajar yaitu :
1. Mememahami dan menerima keadaan jasmani      
2. Memperoleh hubungan yang memuaskan dengan teman-teman sebaya    
3. Mencapai hubungan yang lebih “matang” dengan orang dewasa 
4. Mencapai kematangan Emosional  
5. Menujukepada keadaan berdiri sendiri dalam lapangan finansial.
6. Mencapai kematangan intelektual
F. MERUMUSKAN TUJUAN INSTRUKSIONAL
Tujuan instruksional merupakan penjabaran dari tujuan pendidikan dalam sistem pendidikan, secara nasional tujuan pendidikan tercantum dalam pembukaan Undang undang dasar 1945 yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. Gambaran tentang ciri ciri kedewasaan yang perlu dikembangkan pada anak didik dapat ditemukan dalam penentuan perumusan mengenai tujuan pendidikan, baik pada taraf nasional maupun taraf pengelolaan institusi pendidikan. Perumusan suatu tujuan pendidikan yang menetapkan hasil yang harus diperoleh siswa selama belajar, dijabarkan atas pengetahuan dan pemahaman, keterampilan, sikap dan nilai yang telah menjadi milik siswa. Adanya tujuan tertentu memberikan arah pada usaha para pengelola pendidikan dalam berbagai taraf pelaksanaan. Dengan demikian usaha mereka menjadi tidak sia sia karena bekerja secara profesional dengan berpedoman pada patokan yang jelas.
Dalam proses belajar mengajar tujuan instruksional dapat di bagi menjadi 2 yaitu tujuan instruksional umum yang menggariskan hasil hasil di aneka bidang studi yang harus dicapai siswa dan tujuan instruksional khusus (TIK) yang merupakan penjabaran dari tujuan instruksional umum yang menyangkut suatu pokok bahasan sebagai tujuan pengajaran yang konkrit dan spesifik. Di dalam ilmu psikologi mengenal pembagian aspek kepribadian atas tiga kategori yaitu aspek kognitif, aspek afektif dan aspek psikomotorik. Ketiga aspek ini sampai saat ini dilakukan oleh tenaga pengajar dalam melakukan penilaian terhadap materi yang telah disampaikan disamping melakukan analisis tugas belajar
Setiap TIK yang hendak dicapai menuntut prasyaratan kemampuan internal yang harus dimiliki yang berupa salah satu dari lima hasil belajar (informasi verbal, kemahiran intelektual, pengaturan kegiatan kognitif, keterampilan sikap dan motorik). Analisis tugas belajar dikemukakan oleh Gagne karena menyangkut penyelidikan terhadap komponen yang mungkin terdapat dalam tujuan instruksional dalam aspek jenis perilaku dan dalam aspek isi terutama tentang pemahaman dan pengetahuan. Unsur pemahaman menunjukkan pada konsep / dasar dan unsur pengetahuan menunjukkan pada informasi verbal. Kedua unsur kiranya mutlak diperlukan karena tanpa pemahaman dan pengetahuan yang memadai sulit memperoleh sikap yang mantap.

G. MENGEMBANGKAN TES KITERIA

1.      Tes dan Pengukuran
Tes, pengukuran dan penilaian merupakan tiga aspek yang saling berhubungan dalam kegiatan pembelajaran. Tes merupakan alat ukur, pengukuran merupakan proses pemberian angka yang bersifat kuantitatif dan penilaian merupakan proses pengambilan keputusan yang bersifat kualitatif berdasarkan hasil pengukuran. Pengukuran adalah proses pemberian angka atau usaha memperoleh deskripsi numerik dari suatu tingkatan di mana seorang peserta didik telah mencapai karakteristik tertentu. Pengukuran dalam bidang pendidikan sangatlah kompleks. Kemampuan dalam pengukuran ini dibutuhkan keahlian tersendiri. Oleh sebab itu, kemampuan dalam membuat tes dan melakukan pengukuran dan penilaian merupakan kemampuan profesional yang harus dimiliki oleh guru.

Tes merupakan cara penilaian yang dirancang dan dilaksanakan kepada peserta didik pada waktu dan tempat tertentu serta dalam kondisi yang memenuhi syarat-syarat tertentu yang jelas. Tes sebagai alat penilaian adalah pertanyaan-pertanyaan yang diberikan kepada siswa untuk mendapat jawaban dari siswa dalam bentuk lisan (tes lisan), dalam bentuk tulisan (tes tulisan), atau dalam bentuk perbuatan (tes tindakan). Tes pada umumnya digunakan untuk menilai dan mengukur hasil belajar siswa, terutama hasil belajar kognitif berkenaan dengan penguasaan bahan pengajaran sesuai dengan tujuan pendidikan dan pengajaran.
2.      Jenis-Jenis Tes
Ada dua jenis tes yakni tes uraian dan tes objektif. Tes uraian terdiri dari uraian bebas, uraian terbatas, dan uraian berstruktur. Sedangkan tes objektif terdiri dari beberapa bentuk, yakni bentuk pilihan benar-salah, pilihan berganda, menjodohkan, isian pendek dan melengkapi.
a.       Tes uraian
Tes uraian merupakan alat penilaian hasil belajar yang paling tua. Secara umum tes uraian adalah pertanyaan yang menuntut siswa menjawabnya dalam bentuk menguraikan, menjelaskan, mendiskusikan, membandingkan, memberikan alasan, dan bentuk lain yang sejenis sesuai dengan tuntutan pertanyaan dengan menggunakan kata-kata dan bahasa sendiri. Dengan demikian, dalam tes ini dituntut kemampuan siswa dalam hal mengekspresikan gagasannya melalui bahasa tulisan.
Adapun kelebihan atau keunggulan tes uraian ini antara lain adalah:
1)   dapat mengukur proses mental yang tinggi atau aspek kognitif tingkat tinggi;
2)   dapat mengembangkan kemampuan berbahasa, baik lisan maupun tulisan, dengan baik dan benar sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa;
3)   dapat terlatih kemampuan berpikir teratur atau penalaran, yakni berfikir logis, analitis, dan sistematis;
4)   mengembangkan keterampilan pemecahan masalah (problem solving);
5)   adanya keuntungan teknis seperti mudah membuat soalnya sehingga tanpa memakan waktu yang lama, guru dapat secara langsung melihat proses berfikir siswa.

Dilain pihak kelemahan atau kekurangan yang terdapat dalam tes ini antara lain adalah:
1)    sampel tes sangat terbatas sebab dengan tes ini tidak mungkin dapat menguji semua bahan yang telah diberikan, tidak seperti pada tes objektif yang dapat menanyakan banyak hal melalui sejumlah pertanyaan;
2)    sifatnya sangat subjektif, baik dalam menanyakan, dalam membuta pertanyaan, maupun dalam cara memeriksanya. Guru bisa saja bertanya tentang hal-hal yang menarik baginya, dan jawaban nya juga berdasarkan apa yang dikehendakinya;
3)    tes ini biasanya kurang reliabel mengungkap aspek yang terbatas, pemeriksaannya memerlukan waktu lama sehingga tidak praktis bagi kelas yang jumlah siswanya relatif besar.

Bentuk tes uraian dibedakan menjadi uraian bebas (free essay) dan uraian terbatas (berstruktur). Dalam uraian bebas jawaban siswa tidak dibatasi, bergantung pada pandangan siswa itu sendiri. Hal ini disebabkan oleh isi pertanyaan uraian bebas sifatnya umum. Melihat karakteristiknya, pertanyaan bentuk uraian bebas ini tepat digunakan apabila bertujuan untuk:

1.    mengungkapkan pandangan para siswa terhadap suatu masalah sehingga dapat diketahui luas dan intensitasnya.
2.    mengupas suatu persoalan yang kemungkinan jawabannya beraneka ragam sehingga tidak ada satupun jawaban yang pasti.
3.    mengembangkan daya analisis siswa dalam melihat suatu persoalan dari berbagai segi atau dimensinya.

Kelemahan tes ini ialah sukar menilainya karena jawaban siswa bisa bervariasi, sulit menentukan kriteria penilaian, sangat subjektif karena bergantung pada guru sebagai penilainya. Bentuk kedua dari tes uraian adalah uraian terbatas. Dalam bentuk ini pertanyaan telah diarahkan kepada hal-hal tertentu atau ada pembatasan tertentu. Pembatasan bisa dari segi: ruang lingkupnya, sudut pandang menjawabnya, dan indikator-indikatornya.
Dengan adanya pembatasan tersebut jawaban siswa akan lebih terarah sesuai dengan yang diharapkan. Cara memberikan penilaian juga lebih jelas indikatornya. Kriteria kebenaran jawaban bisa lebih mudah ditentukan. Oleh sebab itu, bentuk soal uraian terbatas terasa lebih terarah dan lebih tepat digunakan dari pada bentuk uraian bebas.
Di samping kedua bentuk uraian di atas adal pula bentuk tes uraian yang disebut soal-soal berstruktur. Soal berstruktur dipandang sebagai bentuk antara soal-soal objektif dengan soal-soal esai. Soal berstruktur merupakan serangkaian soal jawaban singkat sekalipun bersifat terbuka dan bebas menjawabnya. Soal yang berstruktur berisi unsur-unsur pengantar soal, seperangkat data, dan serangkaian subsoal.

Menyusun soal bentuk uraian, Agar diperoleh soal-soal bentuk uraian yang dikatakan memadai sebagai alat penilaian hasil belajar, hendaknya diperhatikan hal-hal berikut.

1.    Dari segi isi yang diukur
Segi yang hendak diukur hendaknya ditentukan secara jelas abilitasnya, misalnya pemahaman konsep, aplikasi suatu konsep, analisis suatu permasalahan, dan aspek kognitif lainnya. Dengan kejelasan apa yang akan diungkapkan maka soal atau pertanyaan yang dibuat hendaknya mengungkapkan kemampuan siswa dalam abilitas tersebut. Setelah abilitas yang hendak diukur cukup jelas, tetapkan materi yang ditanyakan. Dalam memilih materi sesuai dengan kurikulumnya atau silabusnya, pilih materi yang esensial sehingga tidak semua materi perlu ditanyakan. Materi esensial adalah materi yang menjadi inti persoalan dan menjadi dasar untuk penguasaan materi lainnya. Dengan perkataan lain, bila konsep esensial dikuasai, maka secara keseluruhan siswa akan mengetahui aspek-aspek yang berkenaan dengan konsep tersebut. Aturlah penyajian pertanyaan secara berurutan mulai dari yang mudah menuju kepada yang lebih sulit, atau dari yang sederhana menuju kepada yang lebih kompleks. Gunakan bentuk uraian terbatas atau yang berstruktur.
2.  Dari segi bahasa
Gunakan bahasa yang baik dan benar sehingga muda diketahui makna yang terkandung dalam rumusan pertanyaa. Bahasanya sederhana, singkat, tetapi jelas apa yang ditanyakan.
3.  Dari segi teknis penyajian soal
Hendaknya jangan mengulang-ulang pertanyaan terhadap materi yang sama sekalipun untuk asibilitas yang berbeda sehingga soal atau pertanyaan yang diajukan lebih komprehensif daripada segi lingkup materinya. Perhatikan waktu yang tersedia untuk mengerjakan soal tersebut sehingga soal tidak terlalu banyak atau terlalu sedikit. Bobot penilaian untuk setiap soal hendaknya dibedakan menurut tingkat kesulitan soal. Soal-soal yang tergolong sulit diberi bobot yang lebih besar. Tingkat kesulitan soal dilihat dari sifat materinya dan abilitas yang diukurnya. Abilitas analisis lebih sulit daripada aplikasi dan pemahaman demikian juga sintesis lebih sulit daripada analisis. Sedangkan dari aspek materi, konsep lebih sulit daripada fakta.
4.      Dari segi jawaban
Setiap pertanyaan yang diajukan sebaiknya telah ditentukan jawaban yang diharapkan, minimal pokok-pokoknya. Tentukan pula besarnya skor maksimal untuk setiap soal yang dijawab benar dan skor minimal bila jawaban dianggap salah atau kurang memadai.
Berbagai macam bentuk tes dapat kita lihat sebagai berikut :           
1.Tes Objektif
a.         Bentuk soal jawaban singkat
Bentuk soal jawaban singkat merupakan soal yang menghendaki jawaban dalam bentuk kata, bilangan, kalimat, atau simbol dan jawabannya hanya dapat dinilai benar atau salah.
Kebaikan bentuk soal jawaban singkat:
1)   Menyusun soalnya relatif mudah
2)   Kecil kemungkinan siswa memberi jawaban dengan cara menebak
3)   Menuntut siswa untuk dapat menjawab dengan singkat dan tepat
4)   Hasil penilaiannya cukup objektif
Kelemahan bentuk soal jawaban singkat:
1)   Kurang dapat mengukur aspek pengetahuan yang lebih tinggi
2)   Memerlukan waktu yang agak lama untuk menilainya sekalipun tidak selama bentuk uraian
3)   Menyulitkan pemeriksanaan apabila jawaban siswa membingungkan pemeriksa

b.        Bentuk soal benar-salah
Bentuk soal benar-salah adalah bentuk tes yang soal-soalnya berupa pernyataan. Sebagian dari pernyataan itu merupakan pernyataan yang benar dan sebagian lagi merupakan pernyataan yang salah. Pada umumnya bentuk soal benar-salah dapat dipakai untuk mengukur pengetahuan siswa tentang fakta, definisi, dan prinsip.
Kebaikan bentuk soal benar-salah:
1)   Pemeriksaan dapat dilakukan secara objektif dan cepat
2)   Soal dapat disusun dengan mudah
Kelemahan bentuk soal benar-salah:
1)   Kemungkinan menebak dengan benar jawaban setiap soal adalah 50%
2)   Kurang dapat mengukur aspek pengetahuan yang lebih tinggi karena hanya menuntut daya ingat dan pengenalan kembali
3)   Banyak masalah yang tidak dapat dinyatakan hanya dengan dua kemungkinan (benar dan salah)

c.         Bentuk soal menjodohkan
Bentuk soal menjodohkan terdiri atas dua kelompok peryataan yang paralel. Kedua kelompok pertanyaan ini berada dalam satu kesatuan. Kelompok sebelah kiri merupakan bagian yang berisi soal-soal yang harus dicari jawabannya.
Kebaikan bentuk soal menjodohkan:
1)   Penilaiannya dapat dilakukan dengan cepat dan objektif
2)   Tepat digunakan untuk mengukur kemampuan bagaimana mengidentifikasi antara dua hal yang berhubungan
3)   Dapat mengukur ruang lingkup dua pokok bahasan atau subpokok bahasan yang lebih luas
Kelemahan bentuk soal menjodohkan:
1)   Hanya dapat mengukur hal-hal yang didasarkan atas fakta dan hafalan
2)   Sukar untuk menentukan materi atau pokok bahasan yang mengukur hal-hal yang berhubungan

d.        Bentuk soal pilihan ganda
Soal pilihan ganda adalah bentuk tes yang mempunyai satu jawaban yang benar atau paling tepat. Dilihat dari strukturnya, bentuk soal pilihan ganda terdiri atas:
1)   Stem, yaitu pernyataan yang berisi permasalahan yang akan ditanyakan
2)   Option, yaitu sejumlah pilihan atau alternatif jawaban
3)   Kunci, yaitu jawaban yang benar atau paling tepat
4)   Distractor (pengecoh), yaitu jawaban-jawaban lain selain kunci jawaban

Kebaikan bentuk soal pilihan ganda:
1)        Materi yang diujikan dapat mencakup sebagian besar dari bahan pengajaran yang telah diberikan
2)        Jawaban siswa dapat dioreksi (dinilai) dengan mudah dan cepat dengan menggunakan kunci jawaban
3)        Jawaban untuk setiap pertanyaan sudah pasti benar atau salah sehingga penilainnya bersifat objekif

3.   Pengembangan Tes
Konstruk adalah kerangka dari suatu konsep. Konsep merupakan aspek abstrak dari realitas, digunakan untuk menyebutkan sifat-sifat yang mungkin dimiliki oleh suatu benda, orang, atau peristiwa. Pada tingkatan yang lebih kompleks, misalnya setelah melalui proses penurunan (inferensi), sebuah konsep selanjutnya disebut sebagai konstruk (variabel teoritis). Sedangkan untuk dapat mengukur beragamnya nilai sebuah konstruk, dibutuhkan suatu indikator (variabel). Konstruk berhubungan dengan sikap, minat, intelegensi, kepemimpinan, agresivitas.
Sebuah teori menyatukan beberapa pernyataan terhadap konstruk-konstruk yang saling memiliki hubungan kausalitas. Dalam permodelan teori dikenal beberapa konstruk:
a.                Konstruk Eksogen, yaitu konstruk yang tidak memiliki penyebab atau penyebabnya berasal dari luar teori. Variabel yang digunakan untuk mengukur disebut sebagai variabel independen.
b.               Konstruk Endogen, yaitu konstruk yang memiliki penyebab. Variabel pengukurnya disebut variabel dependen.
c.                Konstruk interven, yaitu konstruk yang menyebabkan hubungan persebaban tidak langsung antara dua konstruk lain.
Dua konstruk dapat menyebabkan satu sama lain di dalam sebuah proses yang disebut persebaban resiprokal (resiprocal causation). Konstruk memiliki validitas. Validitas konstruk adalah validitas yang berkaitan dengan kesanggupan suatu alat ukur dalam mengukur pengertian suatu konsep yang diukurnya. Menurut Jack R. Fraenkel  validasi konstruk (penentuan validitas konstruk) merupakan yang terluas cakupannya dibanding dengan validasi lainnya, karena melibatkan banyak prosedur termasuk validasi isi dan validasi kriteria. Jack R. FraenkelI menyatakan bahwa untuk mendapatkan validitas konstruk ada tiga langkah di dalamnya yaitu:
a.             Variabel yang akan diukur harus didefinisikan dengan jelas
b.            Hipotesis, yang mengacu pada teori yang mendasari variabel penelitian harus dapat membedakan orang dengan tingkat gradasi yang berbeda pada situasi tertentu
c.             Hipotesis tersebut diuji secara logis dan empiris.

Dalam pengembangan tes, domain yang akan diukur dibagi menjadi domain kognitif, domain afektif, dan domain psikomotor. Level pembelajaran di atas akan sangat tergantung pada pencapaian level di bawahnya.
Level pembelajaran domain kognitif:
1.  Knowledge yaitu mengingat sesuatu
2.  Comprehension yaitu menangkap/memahami arti sesuatu
3.  Application yaitu menggunakan sesuatu dalam situasi konkrit
4.  Analysis yaitu memecah sesuatu menjadi material pembentuknya
5.  Synthesis yaitu menyusun bagian-bagian menjadi satu
6.  Evaluation yaitu menilai sesuatu berdasar kriteria tertentu

Kategori utama domain afektif:
1.      Receiving phenomena yaitu kewaspadaan, mau mendengar
2.      Responding to phenomena yaitu partisipasi aktif sebagai pembelajar
3.      Valuing yaitu nilai seseorang melekat pada perilaku
4.      Organization yaitu mengorganisasi nilai ke dalam prioritas
5.      Characterization yaitu memiliki sistem nilai yang mengatur perilaku

Kategori utama domain psikomotor:
1.  Perception yaitu mampu melakukan pergerakan
2.  Set yaitu kesiapan bertindak
3.  Guided response yaitu melakukan imitasi, trial & error
4.  Mechanism yaitu menjadi kebiasaan
5.  Complex overt response yaitu pola pergerakan kompleks
6.  Adaptation yaitu memodifikasi pola pergerakan
7.  Origination yaitu menciptakan pergerakan baru

Dalam mengukur indikator pencapaian hasil belajar baik kognitif, afektif maupun psikomotor dapat menggunakan berbagai macam bentuk tes baik tertulis maupun lisan. Domain kognitif dapat diukur menggunakan seperti misalnya tes lisan, tes pilihan ganda, tes obyektif, tes uraian, tes jawaban singkat, menjodohkan, dan tes unjuk kerja. Tes pada domain afektif untuk mengukur sikap dengan teknik antara lain observasi, pertanyaan langsung, dan laporan pribadi yang diukur dengan menggunakan skala Likert. Sedang hasil belajar psikomotor yang indikator keberhasilannya lebih berorientasi pada gerakan dan menekankan pada reaksi fisik atau keterampilan tangan.

H. ANALISA TUGAS
Terdapat perbedaan antara sistem evaluasi lama dengan modern sistem evaluasi lama jawaban terhadap item langsung diberikan skor standar skor yang diperoleh dari setiap item dijumlahkan lalu dibagi dengan jumlah itemnya hasil bagi ini yang dipergunakan sebagai standar tentang prestasi anak dalam tes
Kelemahannya :
1.   item-item yang diberikan dalam suatu tes seringkali merupakan item-item yang tidak seimbang baik dari segi taraf kesukarannya maupun dari segi banyaknya jawaban yang diminta. dalam setiap evaluasi lama hal ini tidak diperhitungkan. setiap item diberikan skor yang sama
2.   seringkali skor yang telah diberikan ditinjau atau diubah kembali. misalnya apabila dalam suatu ujian akhir sebagian besar dari pengikut ujian mendapat skor dibawah batas lulus, maka biasanya panitia ujian mengadakan rapat kembali untuk mengadakan peninjauan terhadap skor tersebut.
Dalam sistem evaluasi modern jawaban pada item-item tidak langsung diberikan skor standar skor yang diberikan adalah bersifat sementara yang disebut skor mentah (raw score)
dalam skor standar biasanya bergerak antara 0 – 10, maka dalam pemberian skor mentah tidak ada pembatasan yang mutlak.dalam suatu tes mungkin skor itu bergerak dari 0 – 50, dalam tes yang lain mungkin bergerak dari 0 – 100.  skor mentah yang didapat dalam suatu tes belum dapat memberikan gambaran yang jelas tentang prestasi anak dalam tes tersebut. menurut woodworth ada dua jenis norma yang dapat dipergunakan untuk mengkonversikan (mengubah skor mentah menjadi skor standar).
cara pertama:
membandingkan skor yang diperoleh oleh seseorang dengan suatu standar yang absolut
cara kedua
membandingkan skor seseorang dengan skor yang diperoleh oleh orang-orang lain dalam tes tersebut
Norma-norma yang dipakai norma absolute atau pap (penilaian acuan patokan)/ norma actual norma yang ditetapkan secara absolut (mutlak), oleh guru atau pembuat tes berdasarkan atas jumlah soal, bobot masing-masing soal serta prosentase penguasaan yang dipersyaratkan.  Dengan demikian skor standar yang diperoleh oleh seseorang yang didasarkan atas konversi norma absolut akan mencerminkan penguasaan anak terhadap bahan yang diberikan dalam mengolah skor mentah menjadi skor standar disamping menentukan jenis norma yang akan dipergunakan, juga harus menentukan jenis skala yang dipergunakan

      jenis skala yang umum dipergunakan adalah beberapa jenis yaitu :
a. skala lima
b. skala sembilan
c. skala sebelas
d. skala seratus
e. skala  z skor

I. Membuat Desain Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Yang Baik
1. Pengertian Desain.
Para ahli dalam bidang perencanaan merumuskan desain dengan definisi, Desain adalah salah satu aspek dari proses pengembangan yang terdiri dari enam fase. Untuk mengembangkan berbagai bentuk atau aktifitas baru yang dianalisis sebagai proses yang terdiri dari enam karakteristik yang saling berhubungan

a. Riset (analisis)
b. Desain (sintesisi)
c. Produksi (formasi )
d. Distribusi(pemyebaran)
e. Utilisasi(kinerja)
f. Eliminasi(penghentian)     

2. Pengertian Pendidikan Agama Islam
Pendidikan agama adalah merupakan usaha untuk memperkuat iman dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sesuai denga agama yang dianut oleh peserta didik yang bersangkutan dengan memperhatikan tuntunan untuk menghormati agama lain dalam hubungan kerukunan antar umat beragama dalam masyrakat untuk mewujudkan pesatuan nasional. Sedangkan Pendidikan agama Islam mempuyai pengertian sebagai usaha sadar untuk menyiapkan siswa dalam menyakini, memahami, menghayati, dan mengamalkan agama Islam melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan/atau latihan dengan memperhatikan tuntutan untuk menghormati agama lain dalam hubungan kerukunan antara umat beragama dalam masyarakat untuk mewujutkan persatuan nasional.
3. Desain Pembelajaran pendidikan agama Islam yang baik
Rencana pembelajaran yang baik menurut gagne dan briggs (1974) hendaknya mengandung tiga komponen yang di sebut dengan anchor point yaitu :
a.       Tujuan pengajaran.
b.      Materi pengajaran atau bahan ajar, pendekatan dan metode mengajar, media pengajaran dan pengalaman belajar.
c.       Evaluasi keberhasilan.

Hal ini sesuai dengan pendapat Kenneth D Moore;bahwa komposisi format rencana pembelajaran meliputi bebrapa komponen di antaranya adalah sebagai berikut:
a. Topic bahasan
b. Tujuan pembelajaran (kompetensi dan indicator kompetensi )
c. Materi pelajran
d. Kegiatan pembelajaran
e. Alat atau media yang dibutuhkan
f. Evaluasi hasil belajar
Dari beberapa pandangan tersebut diatas maka desain pembelajaran pendidikan agma Islam yang baik adalah:
a.       Menentukan tujuan pengajaran pendidikan Islam, adapun tujuan secara umum, pendidikan agama Islam adalah bertujuan untuk meningkatkan keimanan, pemahaman, penghayatan, dan pengamalan peserta didik tentang agama Islam, sehingga menjadi manusia muslim yang beriman dan bertaqwa kepada Allah Swtserta berakhlaq mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat dan berbangsa dan bernegara. Untuk mencapai tujuan tersebut juga perlu adanya suatu materi pengajaran tertentu.
b.      Menentukan materi pengajaran/ bahan ajar, bahan ajar atau materi pengajaran di dalam pendidikan agama Islam adalah terdiri dari Al-Qur’an dan al-hadist, keimanan, syarai’ah, Ibadah, muamalah, aklhlaq dan tareh atau sejarah yang lebih menekankan pada perkembangan ajaran agam, ilmu pengetahuan dan kebudayaan.
c.       Menentukan pendekatan dan metode mengajar dan strategi yang akan digunakan agar bisa menyesuaikan dengan keadaan peserta ajar., di dalam pendidikan agama Islam metode yang banyak digunakan adalah dengan menggunakan metode ceramah, Tanya jawab dan diskusi.
d.      Media pengajaran dan pengalaman belajar ini di lakukan untuk mempermudah peserta ajar/murid untuk menerima pelajaran. Dalam hal ini bisa menngunakan media bacaaan, tip recorde.
e.       Evaluasi keberhasilan, hal ini di lakukan untuk mengetahui kemampuan siswa dalam menerima pelajaran yang telah di berikan oleh pengajar pendidikan agama Islam.
Manfaat Desain pembelajaran:
  1. Sebagai penunjuk arah kegiatan dalam mencapai tujuan.
  2. Sebagai pola dasar dalam mengatur tugas dan wewenang bagi setiap unsur yang terliat dalam kegiatan.
  3. Sebagai alat ukur efektif tidaknya suatu pekerjaan, sehingga setiap saat diketahui ketepatan dan kelambatan kerja.
  4. Sebagai pedoman kerja bagi setiap unsur, baik unsur pengajar maupun unsur yang diajar.
  5. Untuk bahan penyususnan data agar terjadi keseimbangan kerja
  6. Untuk menghemat waktu, tenaga, alat-alat dan biaya.
Model desai mengajar atau pembelajaran.
a. Model ROPES..( Review, Overview, presentation, Exsercise, Summary) dengan langkah-langkah sebagai berikut.
1). Review, kegiatan ini dilakukan dalam waktu 1 sampai 5 menit, yakni mengukur kesiapan siswa untuk mempelajari bahan ajar denganmelihat pengalaman sebelumnya yang sudah dimiliki oleh siswa dan diperlukan sebagai prerequisite unuk memahami bahan yang disampaikan hari itu. Dalah hal ini diperlukan guru harus yakin dan tahu betul jika siswa sudah siap menerima pelajaran baru. Dan jika guru mengetahui siswa belum menguasai pelajaran sebelumnya, maka guru dengan bijak memberi kesempatan kepada siswa untuk memahami terlebih dahulu.
2). Overview, sebagai mana review, overview dilakukan tidak terlalu lama yaitu berkisar antara 2 samapai 5 menet, guru menjelaskan program pembelajaran yang akan dilaksanakan pada hari itu dengan menyampaikan isi secara singkat dan strategis yang akan di gunakan dalam proses pembelajaran. Hal ini dilakukan untuk memberi kesempatan pada siswa untuk menyampaikan pandangannya sehingga siswa merasasenang dan merasa dihargai keberadaannya.
3). Presentation,tahap ini adalah merupakan inti dari proses kegiatan belajar mengajar, karena disini guru sudah tidak memberikan penjelasan-penjelasan singkat, akan tetapi sudah masuk pada proses telling shoing, dan doing. Proses tersebut sangat diperlukan untuk meningkatkan daya serap dan daya ingat siswa tentang pelajaran yang mereka dapatkan.
4). Exsercise, yakni suatu proses untuk memberikan kesempatan kepada siswa mempraktekkan apa yang telah mereka pahami. Hal ini di maksudkan untuk memberikan pengalaman langsung kepada siswa sehingga hasil yang dicapai lebih bermakna.
5). Summary, dimaksudkan untuk memperkuat apa yang telah mereka fahami dalam proses pembelajaran. Hal ini sering tertinggal oleh guru karena mereka disibukkan dengan presentase, dan bahkan mungkin guru tidak pernah membuat Summary ( kesimpulan) dari apa yang telah mereka ajarkan.
b. Model satuan pelajaran adalah merupakan istilah yang dikenal sekarang dengan rencana mengajar atau persiapan mengajar. Secra sistematis rencana pembelajaran dalam bentuk satuan pembelajaran adalah sebagai berikut:
1). Identitas mata pelajaran.
2). Kompetensi dasar atau indikator yang hendak dicapai.
3). Materi pokok.
4). Media yang akan digunakan dalam pembelajaran.
5). Strategi pembelajaran atau tahapa-tahapan proses belajar-mengajar yaitu mengenai kegitan-kegiatan yang dilakukan oleh guru dan siswa dalam berintraksi. Dengan materi pembelajaran dan sumber belajar untuk menguasai kompetensi.
Metode pembelajaran yang baik
Dalam proses belajar mengajar adalah merupakan intraksi yang dilakukan antara guru dan peserta didik dalam suatu pengajaran untuk mewujudkan tujuan yaang teklah di rencanakan dan ditetapkan. Ada beberapa pendekatan yang di gunakan dalam pembejaran agama Islam yang di gunakan sebagai metode untuk penyampaian pembelajaran diantaranya adalah :
a.       Metode ceramah: adalah merupakan metode penyampaian materi ilmu pengetahuan kepada anak didik yang melalu proses penyampaian secara lesan.
b.      Metode tanya Jawab. Adalah merupakan suatu metode mengajukan pertanyaan kepada peserta didik atau sebaliknya. Metode ini dimaksudkan untuk merangsang, berpikir, dan membimbingnya dalam mencapai kebenaran.
c.       Metode tulisan. Adalah merupakan metode mendidik dengan menggunakan huruf simbulsimbul yang berbentuk tulisan, hal ini merupakan sesuatu yang sangat penting dan merupakan jembatan untuk mengetahui segala sesuatu yang sebelumnya tidak di ketahui.
d.      Metode diskusi. Adalah merupakan salah satu cara mendidik yang berupaya memecahkan masyalah yang di hadapi, baik dilakukan oleh dua orang atau lebih yang msing-msing mengajukan argumentasinya untuk memperkuat pendapatnya.
e.       Metode Pemecahan masalah (Problem solving) adalah merupakan cara memberikan pengertian dengan menstimulasi anak didik untuk memperhatikan, menelaah dan berpikir tentang sesuatu masalah untuk selanjutnya menganalisa masalah tersebut sebgai usaha untuk memcahkan masalah.
f.       Metode kisah yaitu merupakasn salah satu metode pembelajaran yang digunakan dengan cara memberi cerita atau dongeng para tokoh-tokoh yang disesuai dengan tujuan perencanaan pembelajaran yang diinginkan, sehingga dapat menggugah hati nurani dan berusaha melakukan hal-hal yang baik.
g.      Metode perumpamaan. Adalah merupakan metode yang digunakan untuk mengungkapkan suatu sifat dan hakekat dari realitas sesuatu.
h.      Metode pemahanan dan penalaran adalah merupakan metode pembelajaran yang dilakukan dengan membangkitkan akal kemampuan berpikir anak secara logis hal ini dilakukan untuk dapat membimbing anak didik untuk memahami problematikan yang dihadapi dengan menemukan jalan keluar.
i.        Metode perintah dan berbuat baik dan saling menasehati. Dengan metode ini anak didik diperintahkan untuk berbuat baik dan saling menasehati agar berlaku benar dan memakan makanan yang halal dan diperintahkan untuk saling menasehati agar meninggalkan yang salah atay yang jelek dan sejenisnya.
j.        Metode suri Tauladan. Adalah merupakan suatu metode yang terbaik dari beberapa metode yang ada karena dengan suri tauladan anak akan mudah meniru sehingga akhirnya akan dengan mudah pula untuk termotivasi metode ini sangat bermanfaat sekaili terutama jika dio berikan pembentukan sikap dan sifat anak didik.

J. MERANCANG EVALUASI PROGRAM PAI
1. Pengertian
Perbincangan tentang evaluasi, tidak bisa dilepaskan dari tiga istilah; pengukuran, penilaian, evaluasi. Pengukuran dapat diartikan dengan kegiatan untuk mengukur sesuatu. Pada hakekatnya, kegiatan ini adalah membandingkan sesuatu dengan sesuatu yang lain[1]. Mengukur suhu badan seseorang dengan termometer, berarti membandingkan suhu badan itu dengan patokan ukuran suhu yang ada pada termometer tersebut. Mengukur jarak kota A dengan kota B, berarti membandingkan jarak kota A dan B dengan patokan ukuran meter atau kilometer. Pengukuran adalah proses kuantifikasi keadaan seseorang atau tempat kedalam angka. Karenanya, dapat dipahami bahwa pengukuran itu bersifat kuantitatif.
Maksud dilaksanakan pengukuran sebagaimana dikemukakan Anas Sudijono ada tiga macam yaitu :
1.      Pengukuran yang dilakukan bukan untuk menguji sesuatu seperti orang mengukur jarak dua buah kota,
2.      Pengukuran untuk menguji sesuatu seperti menguji daya tahan lampu pijar serta
3.      Pengukuran yang dilakukan untuk menilai. Pengukuran ini dilakukan dengan jalan menguji hal yang ingin dinilai seperti kemajuan belajar dan lain sebagainya

Dalam dunia pendidikan, pengukuran adalah pengumpulan data melalui pengamatan empiris. Proses pengumpulan ini dilakukan untuk menaksir apa yang telah diperoleh siswa setelah mengikuti pelajaran selama waktu tertentu. Proses ini dapat dilakukan dengan mengamati kinerja mereka, mendengarkan apa yang mereka katakan serta mengumpulkan informasi yang sesuai dengan tujuan melalui apa yang telah dilakukan siswa. Penilaian merupakan langkah lanjutan setelah dilakukan pengukuran. Informasi yang diperoleh dari hasil pengukuran selanjutnya dideskripsikan dan ditafsirkan. Menurut Djemari Mardapi penilaian adalah kegiatan menafsirkan atau mendeskripsikan hasil pengukuran. Hasil pengukuran yang bersifat kuantitatif dari pengukuran, kemudian ditafsirkan dalam bentuk nilai.
Ada dua acuan yang dapat dipergunakan dalam melakukan penilaian yaitu acuan norma (norm-referenced) dan acuan kriteria (criterion-referenced). Penggunaan acuan norma dilakukan untuk menyeleksi dan mengetahui dimana posisi seseorang terhadap kelompoknya. Misalnya jika seseorang mengikuti tes tertentu, maka hasil tes akan memberikan gambaran dimana posisinya jika dibandingkan dengan orang lain yang mengikuti tes tersebut. Adapun acuan kriteria dipergunakan untuk menentukan kelulusan seseorang dengan membandingkan hasil yang dicapai dengan kriteria/standar yang telah ditetapkan terlebih dahulu. Acuan ini biasanya digunakan untuk menentukan kelulusan seseorang, misal dalam UN. Pengukuran, penilaian dan evaluasi merupakan kegiatan yang bersifat hierarki. Artinya ketiga kegiatan tersebut dalam kaitannya dengan proses belajar mengajar tidak dapat dipisahkan satu sama lain dan dalam pelaksanaannya harus dilaksanakan secara berurutan.
Evaluasi Menurut Suharsimi Arikunto adalah kegiatan untuk mengumpulkan informasi tentang bekerjanya sesuatu, yang selanjutnya informasi tersebut digunakan untuk menentukan alternatif yang tepat dalam mengambil keputusan[5]. Dalam bidang pendidikan, evaluasi merupakan proses yang sistematis tentang mengumpulkan, menganalisis dan menafsirkan informasi untuk menentukan sejauhmana sebuah tujuan telah dicapai.
2. Ruang Lingkup dan Jenis Evaluasi
Janan Asifuddin menilai bahwa evaluasi pendidikan mestinya tidak hanya berkutat pada masalah pengajaran saja. Menurutnya, evaluasi pendidikan juga harus mencakup masalah seperti tujuan pendidikan, metode, sarana, guru, dan lainnnya. Untuk itu, menurut Janan, dalam evaluasi pendidikan paling tidak dikenal tiga jenis evaluasi yaitu:
1. Evaluasi pendidikan
2. Evaluasi hasil belajar
3. Evaluasi kurikulum

3. Sasaran Evaluasi
Yang dimaksud dengan sasaran evaluasi pendidikan ialah segala sesuatu yang dijadikan titik pusat perhatian/pengamatan. Salah satu cara untuk mengetahui objek dari evaluasi pendidikan adalah dengan jalan menyorotinya dari tiga aspek, yaitu input, transformasi, dan output
a. Input
Dalam dunia pendidikan, khususnya dalam proses pembelajaran di sekolah, input tidak lain adalah calon siswa. Calon siswa sebagai pribadi yang utuh, dapat ditinjau dari segi yang menghasilkan bermacam-macam bentuk tes yang digunakan sebagai alat untuk mengukur. Aspek yang bersifat rohani setidak-tidaknya mencakup empat hal:
1)      Kemampuan
Untuk dapat mengikuti program pendidikan suatu lembaga/sekolah/institusi maka calon peserta didik harus memiliki kemampuan yang sepadan atau memadai, sehingga nantinya peserta didik tidak akan mengalami hambatan atau kesulitan.
2)      Kepribadian
Kepribadian adalah sesuatu yang terdapat pada diri manusia dan menampakkan bentuknya dalam tingkah laku. Dalam hal-hal tertentu, informasi tentang kepribadian sangat diperlukan, sebab baik-buruknya kepribadian secara psikologis akan dapat mempengaruhi mereka dalam mengikuti program pendidikan. Alat untuk mengetahui kepribadian seseorang disebut Personality Test.
3)      Sikap
Sebenarnya sikap ini merupakan bagian dari tingkah laku manusia sebagai gejala atau gambaran kepribadian yang memancar keluar. Namun karena sikap ini merupakan sesuatu yang paling menonjol dan sangat dibutuhkan dalam pergaulan maka informasi mengenai sikap seseorang penting sekali. Alat untuk mengetahui keadaan sikap seseorang dinamakan Attitude Test.
4)      Inteligensi
Untuk mengetahui tingkat inteligensi seseorang digunakan tes inteligensi yang sudah banyak diciptakan oleh para ahli. Seperti, tes Binet-Simon (buatan Binet dan Simon), SPM, Tintum, dsb. Dari hasil tes akan diketahui IQ (Intelligence Qoutient) yaitu angka yang menunjukkan tinggi rendahnya inteligensi seseorang tersebut.
b. Transformasi
Transformasi yang dapat diibaratkan sebagai “mesin pengolah bahan mentah menjadi bahan jadi”, akan memegang peranan yang sangat penting. Ia dapat menjadi faktor penentu yang dapat menyebabkan keberhasilan atau kegagalan dalam upaya pencapaian tujuan pendidikan yang telah ditentukan; karena itu objek-objek yang termasuk dalam transformasi itu perlu dinilai atau dievaluasi secara berkesinambungan. Unsur-unsur dalam transformasi yang menjadi objek penilaian demi diperolehnya hasil pendidikan yang diharapkan antara lain:
a. Kurikulum atau materi pelajaran,
b. Metode pengajaran dan cara penilaian,
c. Sarana pendidikan atau media pendidikan,
d. Sistem administrasi,
e. Guru dan personal lainnya dalam proses pendidikan.

c. Output
Sasaran evaluasi dari segi output adalah tingkat pencapaian atau prestasi belajar yang berhasil diraih peserta didik setelah mereka terlibat dalam proses pendidikan selama jangka waktu yang telah ditentukan. Ranah yang biasa digunakan adalah tiga trikhotomik Benyamin Bloom, yaitu kognitif, Afektif dan psikomotor. Sasaran di atas, merupakan obyek dari evaluasi pendidikan, evaluasi pengajaran dan evaluasi kurikulum. Akan tetapi untuk evaluasi kebijakan, sasarannya adalah kebijakan yang telah diputuskan dan diimplementasikan. Evaluasi ini meliputi dasar kebijakan, desain, implementasi, dan hasilnya.  Sedangkan evaluasi meta, sasarannya adalah proses atau kegiatan evaluasi itu sendiri.
d. Tujuan dan Fungsi Evaluasi
Menurut Anas Sudijono, tujuan evaluasi adalah, pertama, untuk mencari informasi atau bukuti-bukti tentang sejauhmana kegiatan-kegiatan yang dilakukan telah mencapai tujuan, atau sejauhmana batas kemampuan yang telah dicapai oleh seseorang atau sebuah lembaga. Kedua, untuk mengetahui sejauhmana efektifitas cara dan proses yang ditempuh untuk mencapai tujuan tersebut.
Adapun fungsi evaluasi, menurut Abudin Nata adalah :
a.      Mengetahui tercapai tidaknya tujuan
b.      Memberi umpan balik bagi guru dalam melakukan proses pembelajaran.
c.       Untuk menentukan kemajuan belajar.
d.      Untuk mengenal peserta didik yang mengalami kesulitan
e.       Untuk menempatkan murid dalam situasi belajar yang tepat
f.       Bagi pendidik, untuk mengatur proses pembelajaran. Bagi peserta didik untuk mengetahui kemampuan yang telah dicapai, bagi masyarakat untuk mengetahui berhasil tidaknya pelaksanaan program.
Selain itu, ada beberapa fungsi lain yang bisa disebut, yaitu: fungsi seleksi, fungsi penempatan, fungsi pengukur keberhasilan dan fungsi diagnosis.
e. Validitas dan Realibilitas Evaluasi
Evaluasi berkaitan dengan apa yang dievaluasi dan apa yang digunakan untuk mencari informasi, yang kemudian disebut sebagai alat evaluasi. Penggunaan alat inilah yang memunculkan informasi-informasi tentang karakteristik apa yang dievaluasi. Maka muncul sebuah. pertanyaan mendasar tentang sejauhmana informasi yang diperoleh tersebut dapat dipercaya?  Untuk mengungkap aspek-aspek yang hendak diteliti, maka diperlukan alat ukur yang baik dan berkualitas. Sebuah alat yang baik sebagaimana disampaikan oleh Syaifuddin Azwar harus memiliki beberapa kriteria antara lain valid, reliable, standar, ekonomis dan praktis.
Apabila evaluasi dilaksanakan dengan menggunakan tes, maka sebuah tes dikatakan valid jika ia memang mengukur apa yang seharusnya diukur. Misal, untuk mengukur panas, alat ukurnya adalah termometer, bukan timbangan. Dengan demikian thermometer itu memang mengukur panas. Jadi benar-benar mengukur apa yang seharusnya. Validitas merupakan penilaian menyeluruh dimana bukti empiris dan logika teori mendukung pengambilan keputusan serta tindakan berdasarkan skor tes atau model-model penilaian yang lain. Menurut Allen & Yen validitas tes dapat dibagi kedalam tiga kelompok utama yaitu : (1) validitas isi (content validity), (2) validitas konstruk (construct validity) dan (3) validitas kriteria (criterion related validity).
Validitas isi menunjuk pada sejauhmana isi perangkat soal tersebut mengukur apa yang seharusnya diukur. Dalam kaitannya dengan kegiatan pembelajaran adalah kesesuaian antara materi ujian dan materi yang telah dipelajari. Pengujian validitas isi tidak melalui analisis statistik melainkan analisis rasional yaitu dengan melihat apakah butir-butirnya telah sesuai dengan batasan domain ukur yang telah ditetapkan sebelumnya. Validitas konstruk merujuk pada sejauhmana suatu tes mengukur suatu konstruk teoretik yang hendak diukurnya. Konstruk dalam pengertian ini adalah berkaitan dengan aspek-aspek psikologi seseorang khususnya aspek kognitif, afektif dan psikomotor
Validitas kriteria merupakan validitas yang disusun berdasarkan kriteria yang telah ada sebelumnya. Dalam validitas kriteria, kesahihan alat ukur dilihat dari sejauhmana hasil pengukuran tersebut sama dengan hasil pengukuran alat lain yang dijadikan kriteria. Biasanya, dalam pengukuran psikologis, yang dijadikan kriteria, adalab hasil Pengukuran lain yang telah dianggap sebagai alat ukur yang baik. Validitas kriteria dibedakan menjadi dua macam yaitu berdasarkan kapan kriteria itu dapat dimanfaatkan. Jika dimanfaatkan dalam waktu dekat maka disebut validitas konkurent (concurrent validity) dan jika dimanfaatkan diwaktu yang akan datang disebut validitas prediktif (predictive validity).
f. Teknik Evaluasi
Teknik evaluasi adalah cara yang dilakukan untuk melakukaan evaluasi. Untuk evaluasi pendidikan yang termasuk di dalamnya evaluasi terhadap program pendidikan suatu lembaga, tujuan, sarana, efektifitas, kurikulum dan lain-lainnya bisa dilakukan dengan teknik evaluasi program. Model evaluasi program diantaranya adalah CIPP, Stake, Discrepancy, Scriven, Goal Oriented Evaluation dan Goal Free Evaluation.
Untuk evaluasi pembelajaran ada dua teknik yang sering digunakan untuk mengukur hasil belajar yaitu dengan tes dan nontes. Sebagai salah satu alat untuk mengkuantifikasi sampel prilaku, maka para ahli memberikan berbagai macam klasifikasi tes yang berbeda tergantung perspektif sang ahli tersebut. Klasifikasi tes yang lengkap disampaikan oleh Anas Sudijono yang mengklasifikasikan tes berdasarkan perspektif tertentu. Jika tes digolongkan berdasarkan fungsi sebagai alat ukur perkembangan, maka ada enam jenis tes yaitu : tes seleksi, tes awal, tes akhir, tes diagnostik, tes formatif dan tes sumatif. Berdasarkan aspek psikis yang ingin dinilai, tes dibedakan menjadi tes intelegensi, tes kemampuan, tes sikap, tes kepribadian dan tes hasil belajar. Berdasarkan banyaknya orang yang mengikuti maka tes dibedakan menjadi tes individu dan tes kelompok. Jika digolongkan berdasarkan waktu yang disediakan, maka akan ada dua jenis tes yaitu power test dan speed test. Ditinjau dari segi respon tes dapat dibedakan menjadi dua bentuk yaitu tes verbal dan tes non verbal. Dan jika ditinjau dari cara mengajukan pertanyaan, akan ada dua tes yaitu tes tertulis dan tes lisan. Teknik yang bisa digunakan dalam tes adalah tes lisan, tes unjuk kerja, tes tertulis dan portofolio. Tes tertulis bisa dalam bentuk pilihan ganda, benar-salah, menjodohkan, jawaban singkat, dan uraian bebas. Sedangkan teknik non tes meliputi ; skala bertingkat, kuesioner, daftar cocok, wawancara, pengamatan dan riwayat hidup.
g.      Ihtiar Membangun Teknik Evaluasi Ideal untuk Pendidikan Islam
Dalam Pendidikan Islam ada karakteristik yang sama dengan pendidikan secara umum, akan tetapi dalam hal-hal tertentu mempunyai karakter yang spesifik. Oleh karena itu, dalam evaluasi, ada yang bisa menggunakan cara yang dipakai secara umum dalam dunia pendidikan, akan tetapi dalam hal-hal tertentu harus mengembangkan sendiri model evaluasi yang sesuai. Sebagai contoh adalah Pendidikan Agama Islam. Hasil dari pendidikan agama ini adalah kualitas keberagamaan siswa. Keberagamaan adalah agama sebagaimana diterima oleh siswa dalam pikirannya, perasaannya dan tindakannya. Gambaran keberagamaan seseorang ini secara terperinci disebut peta keberagamaan atau psikografi agama yang  meliputi dimensi ideologis, ritualistik, konsekuensial, eksperiensial dan intelektual.
Menurut Jamaludin Ancok lima dimensi keberagamaan yang mulanya dirumuskan oleh Glock & Stark itu banyak dipakai oleh ahli psikologi dan sosiologi. Rumusan itu melihat keberagamaan tidak hanya dari dimensi ritual semata tetapi juga pada dimensi-dimensi lain. Ancok menilai, meskipun tidak sepenuhnya sama, lima dimensi keberagamaan rumusan Glock & Stark itu bisa disejajarkan dengan konsep Islam. Dimensi ideologis bisa disejajarkan dengan akidah, dimensi ritualistik bisa disejajarkan dengan syari’ah, khususnya ibadah dan dimensi konsekuensial bisa disejajarkan dengan akhlak. Akidah, syari’ah dan akhlak menurut sebagian besar pemikir Islam adalah inti dari ajaran Islam. Dimensi intelektual mempunyai peran yang cukup penting pula karena pelaksanaan dimensi-dimensi lain sangat membutuhkan pengetahuan terlebih dahulu. Sedangkan dimensi eksperiensial dapat disejajarkan dengan dimensi tasawuf atau dimensi mistik

K.    MERANCANG PENGOLAHAN HASIL EVALUASI
Didalam menyusun kurikulum untuk merancang pengolahan hasil evaluasi  pendidikan islam telah mempedomani serta memperhatikan beberapa faktor diantaranya :
1.      Nilai materi atau mata pelajaran, karna pengaruhnya dalam mencapai kesempurnaan dan keutamaan jiwa dengan cara mengenal Tuhan Yang Maha Esa, dan ini adalah tugas dari pada Ilmu-Ketuhanan dan Ilmu-ilmu agama. Sesungguhnya ilmu yang termulia adalah mengenal Tuhan dan sifat-sifat-Nya yang layak dengan-Ny.Dalam menyusun materi atau mata pelajaran ini orang-orang islam telah mengikuti system logis, dan oleh karna itu mereka memilih untuk tingkat pertama  mata pelajaran yang dapat mengantarkan seseorang kepada tujuan yang lebih tinggi, yaitu mengetahui ALLAH, sebagai pencipta alam seluruhny. Untuk mencapai tujuan ini tidaklah dimulai dengan  mempelajari ilmu-ilmu yang kurang penting, seperti ilmu bahasa.
Al-Farabi menyatakan bahwa keutamaan ilmu-ilmu diperoleh dengan tiga cara : Kadang-kadang dengan mulianya soal yang dibahas, kadang-kadang dengan lengkapnya alasan-alasan, kadang-kadang besarnya manfaat yang terkandung didalamnya. Adapun ilmu yang melebihi ilmu-ilmu lainnya, karena besar faedahnya, ialah ilmu syariat dan industri, sesuai dengan perbedaan kebutuhan manussia dan peradaban zaman. Adapun ilmu-ilmu yang melebihi yang lain dari padanya karena lengkapnya bukti-bukti adalah seperti ilmu ukur. Adapun ilmu-ilmu yang dapat melebihi ilmu-ilmu yang lain karena mulianya masalah yang dibicirakan adalah seperti ilmu bintang-bintang.  Al farabi berpendapat bahwa ilmu ketuhanan itu adalah ilmu terpenting dan yang teermulia , dan ilmu-ilmu yang lain daripadanya ialah pembantu dan khadamnya.
Al Ghazali membagi ilmu- ilmu pada tiga macam , yaitu: a)ilmu yang tercela , banyak ataupun sedikit mempelajarinya , seperti ilmu sihir. b)ilmu yang dipuji , yang mempelajarinya sekedar cukup saja, seperti bintang-buntang. c) ilmu yang terpuji , dan mempelajari  sejauh mungkin , yaitu untuk mengenal tuhan dan hukum hukum nyaterhadap maklhuknya inilah yang harus dituntut karena ilmu itu sendiri , dan untuk mencapai kebahagiaan dfa akhirat. Al Ghazali  menyatakan hal yang ideal untuk masanya dimana ia telah hidup padanya waktu itu , dan kecondongan agama islam pada umumnya , dalam hal mana ia menempatkan ilmu agama diatas segala ilmu, akan tetapi disamping itu ia memperolehkan menuntut ilmu-ilmu yang lain yang berbagai –bagai coraknya. Selama tidak menjurus untuk mmwengabaikan agama atau bertentangan denganya.

2.      Nilai mata – pelajaran karena mengandung nasehat untuk mengikuti jalan hidup yang baik dan utama dan ini adalah tugas ilmu aklhak , ilmu hadist dan fiqih secara umum. sangat jelas kegiatan dalam kurikulum dalam pendidikan islam yang mementingkan faktor budi pekerti , baik dsalam phase pendidikan yang pertama dan yang terakhir. Oleh karena ajaran islam itu sumber budi pekerti dan sifat sifat keutamaan ,maka ia telah mengarahkan perhatian yang besar kepada mempelajari ilmu ilmu agama, terutama fiqih yang penuh berisi petunjuk –petunjuk dan nasehat nasehat dan penjelasan penjelasan bagi manusia tentang urusan urusan agama dan dunia mereka , dari itu suatu kurikulum belum dianggap sempurna apabila belum berisi mata pelajaran fiqih.  
       Akan tetapi ada segolongan ulama muslimin yang menyatakan bahwa mempelajari kebanyakan ilmu pengetahuan, baik ia ilmu agama atau filsafah, dapat mengantarkan serseorang untuk mencapai tujuan jiwadsan budi pekerti, maka oleh karena itu mereka mempelajari ilmu-ilmu itu dengan sungguh – sungguh untuk mencapai tujuan ini sebagai tujuan yang utama. Kecondongan yang semacam ini nampak jelas dalam ” Rasail Ikhwanus Shafa. ”merewka ini berpendapat bahwa mempelajari”Al-’ Ulumul Riyadiyah ” dapat melatih jiwa para pelajar. Proses latihan itu berjalan dengan melihat bentuk –bentuk benda yang dapat ditanggap dengan panca- indra, dengan memakai kekuatan indera, kemudian menanggapi bentukbenda itu dengan kemampuan daya pikir. Tujuan yang serupa ini dipersamakan pula dengan tujuan ilmu bumi karena mempelajari alam ini dapat mendorong kita untuk naik ke’alam al-falak, ytaitu tempat tinggal orang orang yang tinggi, dan mendorong pikiran kita menjelajah tempat kediaman rohaniyin.
  Banyak nya kita berfikir tentang alam al-falak dapat menyadarkan kita dari kelalaioan dan kebodohan. Ilmu sejarah telah memperoleh tempat yang tinggi dalam kurikulum pendidikan islam, karena ia dapat membantu untuk mencapai beberapa tuijuan dari pelajaran ilmu agama, karena ilmu sejarah ini menurut pendapat ulama islam dapat membantu para pelajar dalam ilmu aklhak, seperti keberanian, pengorbanan, sehingga dianggappelajaran sejarah ini mempunyai arti yang tersendiri dalam mendidik pemimpin negara dimasa yang akan datang. Dalam kitapnya ”Mu’ jamul Buldan” yaqut memperingatkan kita bahwa alquran mengambil dari sejarah kejadian- kejadian yang pentinguntuk menjadi pelajar dan perhatian kita semuanya.
3.      Nilai mata- pelajaran karena pengaruhnya yang berupa latihan, atau nilainy dalam memperoleh kekuasaan yang tertentu dari akal yang dapat berpindah ke lapangan- lapangan yang lain bukan bukan lapangan mata- pelajaran yang melatih akal itu pada kali pertama. Oleh karena itudikatakan orang tentang ilmu manthiq umpamanya,” ilmu manthiq adalah satu alat yang merupakan aturan yang kalau dijaga  benar- benar akan dapat menghindarkan seseorang dari kesalahan berpikir.” Atau ,” il;mu manthiq itu asal tiap ilmu dn ilmu membetulkan pikiran.
Dengan demikian dapat terlihat bahwa ide ”latihan ” tidak pernah tersembunyi dari pikiran orang islam , terutama orang orang Griek.akan tetapi nilai latihan itu pada hakikatnya tidak dipergunakan secara meluasdan tidak banyak terpakai dalampendidikan islam. Hal ini didisebabkan karena pembagian akal dalam kemampuan yang terpisah- pisah satu sama lain, dan bahwa disana terdapat beberapa mata –pelajaran yang kusus untuk melatih tiap tiap kemampuan tersebut, tidak terkenal dalam kalangan pendidik –pendidik islam, karena mereka itu menganggab bahwa akal iu satu kesatuan yang yang tidak terpisah pisah; dan tidak dianggap bahwa akal itu terbagi kepada kemampuan- kemampuan yang terpisah –pisah seperti, ingatan, khayal dan berpikir, yang tiap- tiapnya akan menjadi kuat dengan mempelajari mata- pelajaran yang tertentu, dan ini merupakan yang terjadi dikalangan para pendidikabad kexviii dan masih tetap ada sampai zaman kita sekarang ini.                                                                                   
Tidakah sukar untuk untuk mengetahui tujuan orang islam dalam mempelajari sesuatu mata- pelajaran yang mengandung tujuan yang langsung . ilmu nahwu dipelajari sebagai untuk mengontrol lidah , ia tidak untuk mencapai tujuan formil, sebagai yang terdapat di eropa pada abad yang lalu.demikian pula ilmu berhitung dipelajari , karena ia mempunyai hubungan langsung dengan urusan- urusan agama, seperti pembaian pusaka dan untuk menentukan waktu salat dan sebagainya. Demikian pula ilmu berhitung ini mempunyai hubungan pula dengan masalah masalah ilmu falak dan dengan study ilmu ilmu yang lain dan dengan bidang perniagaan. Sebenarnya, bahwa tujuan praktis dan mamfaat dalam memilih sesuatu mata-pelajaran adalah ciri yang terpenting dari pendidikan islam.mempelajari ilmu fiqih , kedokeran ,ilmu nahwu dan ilmu falak merupakan bukti yang nyata bahwa orang islam selalu mengkaitkan ilmu yang dipelajari dengan tujuan yang lagsung dan praktik yang nyata dalam kehidupan mereka. Jadi dapat disimpulkan bahwa latihan, tidak memegang peranan penting dalam memilih sesuatu mata- pelajarandi kalangan orang islam, karena disana tidak terdapat halanganpokok yang menghambat dalam memilih suatu mata- pelajaran.

4.      Nilai mata- pelajaran , yang berfungsi pembudayaan dan kesenangan otak   (intellect). Orang orang islam sangat berminat untuk mempelajari bermacam macam jenis ilmu pegetahuan dan kesenian , dan tujuan yang utama dalam hal ini adalah untuk memuaskan naluri alamiah manusia kepada pengetahuan, dan inilah yang dianggap oleh para ulama islam sebagai suatu naluri yang membedakan antara manusia dan hewan. Telah banyak penulis islam yang menulis tentang kelezatan ilmu yang tidak menyamai kelezatan mana saja menurut pandangan mereka. Sebagai contoh Al-Hajj khalifah dalam bukunya” kasyfuzh zhnun” halaman 16 mengatakan ,” sesuatu yang paling lezat dan utama adalah ilmu.keutamaam ilmu kaang- kadang terdapat karena dirinya atau karena lainya .keutamaan ilmu terdapat dalam dua hal, kelezatan karena dirinya ilmu, maka ia dipelajari karena ilmu itu sendiri, kelezatan karena tujuan yang lain , maka ia dipelajari untuk mencapai tujuan tersebut.   

Kelezatan dalam bentuk pertama , dapat diketahui oleh orang yang suka memilikinya, suatu kelezatan ang tak ada bandingnya, karena ia merupakan kelezatan rohani, dan itulah yang dikatakan lazzah yang muthlaq. Sedangkan kelezatan yang keduaadalah kelezatan jasmani , yang pada hakikatnya untuk menolak kesakitan.” seterusnya beliau mengatakan , bukanlah tujuan dari belajar itu untuk memperoleh rezki dalam dunia ini, akan tetapi tujuan sebenarnyaadalah untuk sampai kepada hakikatdan memperkuat budi pekerti.ats dasar ini maka sukarlah untuk dapat kita menerima tulisan dan prnyataan DR. Macdonald yang mengatakan bahwa pendidikan islam adalah semata- mata mengejar kemamfa’atan dan mementingkan sama sekali kepada keinginan perorangan. Sebenarnya Macdonald sangat berlebih – lebihan dalam ucapanya dalam hal yang berkenaan dengan perhatian orang islam terhadap menuntut ilmu karena ilmu.
5.      Nilai pelajaran, karena diperlukan untuk mempersiapkan seseorang guna memperoleh pekerjaan atau penghidupan . sungguhpun orang orang islam mementingkan nilai maknawi dari ilmu pengetahuan , akan tetapi mereka juga tidak ketinggalan dan menyampingkan nilai –nilai kemamfaatan dalam memilih sesuatu mata- pelajaran , sehingga setiap orang yang telah menyelesaikan pendidikanya dapat memoperoleh pekerjaan atau sumber rezeki.perhatian mereka untuk kepentingan ini ada yang secara langsung dan tidak langsung. Tujuan lansung dari segi kemamfaatan ini dapat dilihat dengan adanya pengarahan terhadap anak anak untu mempelajari mata mata pelajaran yang tertentu sebagai bimbimngan untuk memperoleh pekerjaan.

Adapun cara yang tidak langsung yang berkaitan dengan kemamfaatan dapat dilihat dengan jelas dari tujuan belajar untuk melebihi kawan kawan dan menikmati keindahan sastra dan pengetahuan. Demikianlah ilmu itu dianggap sebagai faktor yang terpenting  untuk mencapai sukses dalam hidup maknawi dan materi. Sebenarnya ilmu dalam pandangan agama islam itu adalah suatu kunci umntuk sampai kepangkat yang tertinggi dalam sebuah negara , dengan tidak memandang tempat kelahiran, unsur bangsa atau agama seseorang. Dengan keutamaan ilmu pengetahuan dan kecerdasan akan berkuranglah perbedaan sosial, dan tempat kelahiran seseorang tidak menghambat untuk mencapai yang pangkat yang tertinggi. Dengan ilmu pengetahuan itu seseorang dapat mengetengahkan dirinya dalam masyarakat , dan tidak membanggakan kemegahan nenek moyangnya. Memang banyak tulisan tulisan orang islam yang menyatakan kelebihan ilmu dari segi maknawi dan materi , dan pengaruhnya dalam mengurangi perbedaan sosial. Karena itu kita melihat perhatian orang islam dalam menuntut ilmu sebagai media unuk memperoleh penghidupan, dan mencapai kemegahan dan kekuatan. Akan tetapi disamping itu ada pula sebagian orang islam yang mencela menuntut ilmu untuk memperoleh harta, mereka ini mempergunakan ilmu mereka untuk mencapai keridhaan tuhan , sedangkan mereka mencari penghidupan mereka sehari hari denga pekerjaan yang lain , seperti menyalin buku sebagaimana yang telah dikerjakan oleh Ibnu Haitsam , atau bekerja dikebunatau membuat minyak.
Patut kita jelaskan disini pekerjaan ini tidak semuanya dilakukan oleh semua ulama islam, sebagian mereka telah menjadi pegawai pemerintah , seperti menjadi menjadi qhadi dan guru dengan memperoleh gaji. Akan tetapi yang demikian ini tidak menjadi halangan sama sekali untuk mencapai tujuan pertama, dari belajar, yaitu menuntut ilmuuntuk mencapai pangkat atau pekerjaan. Ini adalah tujuan yang nyata dalam pendidikan orang islam, artinya mereka tidak merendahkan kerja untuk memperoleh hidup . orang islam mengambil kedua macam faidah ini dari ilmu, mereka tidak mengabaikan kemamfa’atanyang berupa kelezatan akal dan maknawiyah disamping mengambil kemamfa’atan materi untuk bekal hidup.
6.      nilai mata pelajaran ,karna ia merupakan alat atau media untuk mempelajari ilmu yang lebih berguna dan mata pelajaran yang yang dianggap oleh orang islam sebagai media yang otomatis untuk mempelajari lain adalah ilmu bahasa yang sangat membantu untuk memahami agama, ilmu berhitung dan mantiq. Menurut pendapat ulama islam mempelajari ilmu seperti ini (ilmu alat)bukan untuk mencapai tujuan pada dirinya , akan tetapi ia digunakan sebagai media untu sampai kepada tujuan . oleh karena itu dikatakan tidak perlu mempelajarinya secara mendalam,sehingga menghabiskan waktu dan menghambat untuk ilmu-ilmu asli , atau ilmu- ilmu yang terdapat tujuan pada dirinya.

Adapun ilmu yang merupakan alat mempelajari ilmu ilmu yang lain , seperti bahasa arab, mnthiq dan sebagainya , maka tak usah dipelajari secara mendalam,kecuali sebagai alat saja untuk ilmu yang lain . adapun maksud  daripembagian ini adalah untuk memperkuatkan kepentingan mata pelajaran agama dari mempelajari ilmu ilmu alat. 






KESIMPULAN
Ilmu pendidikan ini membahas tentang cara-cara atau sistem dalam pendidikan Islam, apa yang harus diketahui seorang pelajar terhadap Islam dan apa yang harus diketahui seorang guru dalam mengajar ilmu pendidikan Islam ini. Selain itu ilmu pendidikan Islam ini membahas tentang dasar-dasar, asas-asas, alat-alat, dan faktor-faktor pendidikan Islam.
Ilmu pendidikan Islam merupakan suatu proses pengajaran untuk dapat menjalankan kehidupan dan memenuhi tujuan hidup secara lebih efektif dan efisien. Yang menjadi dasar pendidikan islam adalah Al-Qur’an dan hadits rasulullah SAW.
















DAFTAR PUSTAKA

Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, (Raja Grafindo: Jakarta,  2006)
Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2008)
Www. Sistem pendidikan agama islam . Com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar